Hanya dukungan dan do’a anda yang aku harapkan :)
Semua ini berawal dari kisahku pada waktu masih kuliah, waktu itu saya mengambil mata kuliah KKN dan ternyata kelompok KKN saya ada si dia yang sekarang telah meninggalkan ku dengan beberapa peryataan menyakitkan bagiku, sebut saja namanya Ungu. Semula kami merasa biasa saja layaknya teman dan anggota kelompok yang lain, kami saling membahas dan mengerjakan tugas secara bekerjasama dan saling membantu. Karena terlalu sering kami bercanda dan melepas tawa bersama, tanpa sengaja mulai saat itu munculah dalam hati ku rasa suka kepadanya. Kami merasa semakin nyaman dengan kebersamaan dalam kelompok itu, meski saya sendiri belum mengutarakan apa yang sebenarnya ada dalam hati ku. Namun, apa yang ada tak seindah yang selalu aku bayangkan. Suatu hari Ungu ternyata berangkat KKN diantar oleh pacarnya yang bekerja sebagai abdi negara yang terlihat sangat gagah karena seragam ketatnya. Tak tahu kenapa hati ini terasa sangat sakit melihat kemesraan mereka di hadapan teman – teman KKN ku. Melihat pacarnya yang lebih keren dan juga mempunyai jabatan, bagiku sangatlah mustahil untuk mampu mendekatinya kembali. Perlahan aku mulai membiasakan rasa ini dan dengan gaya yang seakan biasa – biasa saja saya mulai mengkorek sedikit demi sedikit tentang pacanya itu. Katanya sudah menjalin hubungan sekitar 6 tahun semenjak dia lulus sekolah dan selama ini mereka LDR karena pacarnya bertugas diluar kota. Dan dia berkata sepertinya bosan akan hubungan yang dia jalani itu karena LDR itu. Mulai saat itu aku pun sedikit timbul rasa untuk menyatakan rasa yang ada dalam hati bahwa aku menyukainya. Namun disamping itu, hati ku pun berkata untuk tidak akan mengatakanya, selain malu jika ditolak aku juga berfikir tidak baik jika aku menjadi pihak ketiga yang merusak hubungan mereka.
Setelah itu, kami jalani hubungan layaknya sahabat. Kami saling main dan bercanda bareng di dalam kelompok KKN itu, hal itu membuat rasa semangat yang lebih dalam menjalani rentetan – rentetan tugas yang sudah diagendakan oleh ketua KKN kami. Hingga pada suatu hari dimana tugas KKN mulai usai dan penarikan pun tinggal beberapa hari lagi. Saat itu kami mempunyai rencana perpisahan kelompok dengan membuat acara main bareng ke pantai. Disitulah saya merasa sedih karena mungkin kebersamaanku denganya akan berakhir juga. Saat itu saya selalu gelisah dan tidak pernah tenang bagaimana rasanya esok setelah tak dapat bercanda lagi seperti hari – hari kemarin. Dan munculah dalam benak saya untuk mengungkapkan isi hati saya yang sebenarnya, saya pun tak berharap untuk diterima karena aku juga tak ingin dia berpisah dengan pacarnya gara – gara aku. Yang terpenting aku sudah lega jika dapat mengeluarkan apa yang ada dalam isi hati ku.
Malam hari terakhir di KKN kami berempat bercanda sambil mereka nonton film sampai pagi sementara yang lain sudah tertidur pulas. Pagi harinya kami pun packing barang – barang yang akan kami bawa pulang. Selesai packing, kami berangkat ke pantai bersama – bersama. Karena ada salah satu anggota KKN kami yang rumhnya dekat dengan lokasi pantai yang akan kami tuju, kami diminta untuk mampir dulu untuk makan siang. Disana kami dijamu layaknya tamu istimewa dengan banyak sekali hidangan. Setelah makan dan sholat, kami meneruskan perjalanan yang sudah tidak jauh lagi.
Sampailah kami di tempat tujuan. Cuaca yang cerah, angin yang besar, pantai yang terlihat bersih dan ombak yang tidak terlalu besar membuat kami bersemangat sekali untuk bermain air da pasir sampai seluruh pakaian basah dan kotor semua. Kami merasa bahagia sekali waktu itu, seakan hilang sejenak beban dan masalah yang selalu menghampiri dalam hidup kami. Setelah selesai kami pun pulang sendiri – sendiri karena memang arah perjalanan yang berbeda. Dalam benaku saat itu adalah saat yang paling membuat hati sangat tidak nyaman dan berdebar – debar, karena dalam pikiran ku selain itu hari terakhir aku dapat bersama dia, itu juga saat dimana aku akan mengungkapkan apa yang aku rasakan.
Malam pun tiba dan kami masih dalam separuh perjalanan. Kami berempat yang searah dalam perjalanan pulang berhenti istirahat sejenak sembari makan malam dan solat. Setelah perut terisi dan lelah sedikit hilang, kami pun meneruskan perjalanan pulang. Di tengah perjalanan itu aku memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya aku rasakan padanya, disitu aku pun menambahkan sedikit kata – kata bahwa ini hanya ungkapan rasa ku yang hanya aku ungkapkan supaya lega saja, tidak ada maksut lebih untuk diterima atau maksut lain untuk menjadi pihak ketiga dari hubungan dia dengan pacarnya. Dan jawaban tolakan juga yang aku dapatkan. Rasa sakit tetaplah ada jika mengalami penolakan, akan tetapi aku pun sadar siapa diri aku, apa pekerjaanku dan apa tujuan utama ku mengungkapkan persaan itu. Hal itu sangatlah menguatkan hati ku untuk tetap bisa tersenyum dan tetap bercanda dengannya dalam sisa perjalanan pulang yang sudah tak jauh lagi. Lagi pula aku berpikir itu hari terkahir aku bisa bercanda tawa denganya dan mungkin dengan berjalanya waktu, aku mampu melupakan rasaku ini.
Namun apa yang terjadi, sederetan laporan KKN yang harus dikerjakan dan dipresentasikan membuat aku dan dia sama saja masih selalu bertemu. Disitu aku pun mencoba menguatkan hati untuk tetap bisa bercanda dan tertawa denganya seperti hari – hari kemarin. Bahkan malah membuat kami semakin sering bertemu, makan, main dan bahkan jalan – jalan berdua. Hal itu membuat saya merasa sangat bahagia dan juga nyaman sekali meski dalam benaku selalu berpikir bahwa ini pun tidak akan pernah bertahan lama dan pasti aku akan mengalami rasa sakit karena kenyamanan sesaat ini karena saat bersama aku pun terkadang dia bercerita tentang pacarnya itu. Tapi apa boleh buat, hati terkadang tidak pernah sejalan dengan apa yang kita pikirkan. Dengan kebingungan yang sangat hebat ini sedikit demi sedikit aku belajar untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan mencoba meningkatkan ketaqwaan saya.
Mulai saat itu alhamdulillah saya pun mulai merasakan adanya perbedaan dengan hidupku menuju arah yang lebih baik. Hingga suatu saat kebingungan itu muncul kembali, sampai akhirnya saya merasa sangat berat untuk menjalani cobaan itu dan mulai bertanya kenapa aku harus dihadapkan dengan kisah yang seperti itu, makna seperti apa yang ingin Tuhan tunjukkan pada ku. Kemudian terpikir oleh ku untuk membuat satu keputusan. Waktu itu aku mencoba untuk rutin menjalakan sholat malam (sholat hajat) dengan doa yang saya bisa hanya untuk meminta pentunjuk-Nya kemana aku harus memilih jalan. Apakah aku harus menghentikan kebersamaan ini ataukah melanjutkanya.
Dalam doaku, aku meminta pada Tuhan “berikanlan kami jalan dan jalan yang benar jika memang dia adalah jodohku dan lupakanlah dia dari ingatanku jika memang dia bukanlah jodohku dan berikanlah masing – masing dari kami kebahagiaan dan kebaikan dalam menjalani hidup ini”. Seusai membaca doa akupun langsung kembali tidur dan sebelum tidur aku sempat berdoa kembali “Tuhan, hadirkan dia dalam mimpiku jika memang dia untukku”. Selama beberapa hari ternyata dalam mimpiku selalu ada dia. Hal ini yang membuat aku berfikir apakah benar dia adalah jodohku, namun juga membuatku semakin ada rasa yakin tuhan akan selalu memberikan jalan yang terbaik meski saat ini dia masih punya pacar.
Suatu saat dia menghampiri di di kampus pada sore hari dan kami berjalan – jalan entah kemana tanpa tujuan. Kami kembali ke kampus waktu itu sekitar habis isyak dan kami memutuskan untuk sholat isyak dulu sebelum pulang.
Dari situlah sebenarnya awal mula masalah datang meski saat itu aku berfikir ini adalah jalan. Selesai sholat dan saat duduk dengan sedikit ada obrolan, aku secara tak sengaja mengucapkan hal yang dapat diartikan aku menyukainya dan ternyata kali ini dia membalas rasa suka ku kepadanya. Aku merasa sangat bahagia sekali saat itu hingga tak mampu aku ungkapkan dengan kata – kata seperti apa kebahgiaan yang telah aku dapatkan malam itu. Setelah itu kami pun pulang dan sesampai dirumah kami melanjutkan dengan sms yang tidak ada hentinya jika salah satu dari kami belum ada yang tertidur. Namun, beberapa kali aku berpikir bahwa dia masih punya pacar dan ini adalah sebuah kesalahan jika aku terus melanjutkan hubungan ini. Suatu hari aku putuskan untuk memberanikan diri mengungkapkan bahwa jika dia memang masih mencintai pacarnya maka hentikan saja hubungan kita, meski nanti akan terasa sangatlah sakit sekali hati ini. Dan jawaban apa yang kuterima, dia mengutarakan bahwa sudah tidak mencintainya karena dia sendiri tidak suka dengan hubungan LDR. Hanya saja akan menunggu waktu yang tepat untuk menentukan siapa yang hendak ia pilih. Dari situ aku merasa mulai ada peluang untukku tetap bersamanya.
Hari – hari pun berlalu dan semua terasa sangat indah. Akan tetapi keindahan itu akan seketika berubah menjadi sakitku ketika mendengar pacarnya main kerumah dan mengajaknya untuk main. Sakit memang rasanya dan ada keinginan kuat dalam hati ini untuk tidak melanjutkan hubungan ku denganya. Namun apa daya, seolah – olah setiap aku bilang ingin berhenti dia malah mencoba menahan dan meyakinkan aku dengan segala janji – janjinya. Aku pun saat itu menerima keputusanya untuk tetap bersamaku.
Sering sekali kami bertemu meski dengan cara backstreet karena masih ada rasa takut ketahuan orang tuanya, aku sendiri saat itu masih berusaha keras untuk mendapatkan nilai layak dan mempercepat kuliah ku supaya setelah lulus aku bisa mendapatkan pekerjaan yang layak yang bisa diterima di keluarganya. Dan akhirnya dengan usaha ku yang penuh semangat dengan mengulang semua mata kuliah yang nilainya masih kurang hanya dalam waktu 2 semester. Bagiku itu sangat berat, karena dimana seharusnya semester itu hanya untuk fokus KKN dan skripsi namun aku juga harus menempuh banyak sekali mata kuliah yang seakan keseharian ku hanya full untuk memikirkan kuliah. Karena memang itu menjadi tekadku, aku lakukan semua itu dengna fine aja dan aku pun berhasil mendapatkan nilai yang bisa dibilang baik dan nilai itu jauh dari rasa pesimisku sebelumnya.
Oktober 2013 akhirnya aku dapat mengikuti wisuda. Disaat yang bahagia itu aku ingin sekali dia datang dalam acara wisuda ku, tapi jawabanya hanyalah “semoga besok aku bisa hadir dalam wisudamu”. Dengan kata semoga, kata itu memang sedikit membuatku kecewa. Dia pun akhirnya datang dan aku merasa senang dengan kedatanganya. Tidak seperti pasangan lain yang selalu membawakan bunga atau apapun dalam menghadiri wisuda. Dia datang hanya dengan tangan kosong saja. Saya pun sedikit tercengang waktu itu dan tetap aku tahan rasa kecewa ku. Okelah, semua aku anggap santai saja karena hari ini seharusnya hari yang menyenangkan bagiku. Di hari itu pulan sebenarnya aku juga ada perasaan bingung. Selalu berfikir setelah ini aku harus mencari kerja dimana, aku akan mendapatkan pekerjaan apa dan apakah aku mampu membuktikan bahwa aku bisa. Tapi sudahlah, itu memang jalan yang harus dilakukan setiap orang, itu bukanlah suatu cobaan melainkan sebuah tugas dalam menjalani kehidupan.
Perjuanganku untuk mencari pekerjaan pun dimulai. Hari – hari aku berusaha keras untuk memasukkan beberapa lamaran pekerjaan, entah itu via pos atau via internet. Setiap ada lowongan, tanpa banyak berfikir asalkan itu memenuhi syarat pasti aku langsung masukkan lamaran ke perusahaan itu. Puluhan lamaran masuk dan berhari – hari aku tunggu dengan penuh harap, namun tak ada panggilan juga. Tak menyerah, aku terus mencari lowongan dan masukkan lamaran. Sempat ada beberapa kali panggilan test, tapi hasilnya selalu mengecewakan. Entah itu karena aku yang bodoh dalam mengerjakan test atau karena banyak sainganku yang memang sudah berpengalaman dalam bidang pekerjaan itu aku tidak tahu. Waktu berjalan dan hasilnya masih sama saja, akupun mulai merasa jenuh dengan hasil usaha ku yang tak kunjung mendapatkan hasil dan juga dikarenakan kondisi keuanganku yang semakin menipis untuk mengirim puluhan lamaran dan transport ketika mendapatkan panggilan test diluar kota atau luar provinsi. Seakan itu menjadikan ku merasa sangat putus asa.
Suatu pagi disaat aku mulai putus asa. Saat itu aku sedang ngobrol – ngobrol dirumah tetangga tiba – tiba ada temanku kuliah yang menanyakan aku sudah bekerja apa belum. Langsung aku menjawab belum. Dan dia menanyakan maukah bekerja mengajar di sebuah SMK yang didirikan saudara temanku dan dia juga menjamin bahwa aku pasti diterima jika mau. Aku pun menjawab ya berikan aku waktu sehari untuk berfikir dan akan aku berikan jawaban nanti sore. Aku bingung dan berfikir karena itu bukan pekerjaan yang sesuai dengna bidangku, aku orang teknik tapi harus bekerja sebagai pengajar. Bahkan bagaimana cara berbicara didepan murid dan bagaimana cara mengajar pun aku sama sekali belum tahu. Namun dengan sedikit dorongan teman yang aku ajak ngobrol tadi aku putuskan untuk menerima pekerjaan itu. Pikirku ini kesempatanku mencari pengalaman dan siapa tahu ini jalan rejeki ku. Jika memang bukan jalan ku, setidaknya aku bisa mengumpulkan uang lagi untuk mencari pekerjaan yang lain. Belum sampai sore hari aku telfon temanku jika aku menerima pekerjaan yang dia tawarkan. Beberapa hari kemudian aku titipkan lamaran kerja ku lewar temanku itu dan mendapatkan panggilan untuk bisa datang pada hari pertama anak – anak masuk sekolah.
Disela waktu aku menunggu hari itu, ada tetangga ku yang menyarankan untuk melamar kerja di tempat saudaranya bekerja. Aku pun tanpa basa basi langsung membuat lamaran dan menitipkanya karena kebetulan saudaranya itu pas pulang. Bagiku entah mana yang dapat menerimaku, yang penting disini aku sudah berusaha semampuku. Sampai hari aku masuk ke sekolah dan panggilan dari perusahaan yang tadi pun belum ada panggilan. Fokus saja pada yang menerima ku, itulah yang ada dalam pikiranku.
Hari pertama aku bekerja, aku datang pagi – pagi sekali dan tak tahu harus bagaimana karena waktu itu kepala sekolah juga belum berangkat. Diberi salam murid untuk pertama kalinya bagiku sangat kaget dan masih merasa gagu dalam menjawab salam mereka. Akhinya kepala sekolah pun datang dan aku disuruh masuk kedalam ruanganya. Di dalam ruangan saya ditanya beberapa hal dan setelah itu aku langsung disuruh untuk bergabung dengan guru – guru lain disana. Rasanya bingung aku harus bagiamana karena saat itu murid hanya diberi tugas membersihkan kelas dan para guru isuruh menjaga masing – masing kelas. Alhamdulilah ada beberapa guru yang mau menemaniku mengobrol dan berbagi pengalaman mengajar. Selesai bersih – bersih, murid pada pulang dan aku main ke rumah guru tadi untuk lebih tau bagaimana cara mengajar dengan baik dan benar, juga bagaimana cara mengatasi grogi waktu didepan murid. Disitu saya mendapatkan beberapa ilmu yang dapat aku tuangkan untuk mengajar esok hari.
Sampai dirumah aku mulai merangkai kata – kata yang harus saya ucapkan besok. Setelah saya kira cukup aku pun tidur untuk melepas lelahku. Keesokan harinya aku aku berangkat pagi – pagi supaya tidak terlambat ke sekolah. Gak lucu juga jika hari pertama kok udah terlambat masuk kerja. Sampai disekolah aku mendapatkan jadwal dan itulah pertama kali saya harus masuk ke dalam kelas. Hati berdebar kencang, badan terasa panas dingin, tangan kaki terasa bergetar dan semua rangkaian kata hilang seketika dari pikiranku. Huft, imajinasi sendiri saja sambil kusuruh mereka menulis. Itu lah perjuanganku dihari pertama bekerja. Disekolah itu aku mendapatkan jam yang tidak banyak, hanya masuk kerja setiap selasa, rabu dan sabtu. Hari demi hari semua semakin terasa biasa saja meski kadang bingung mau bicara apa kalau murid hanya pada rame sendiri.
Sampai suatu hari aku mendapatkan telfon panggilan test ke perusahaan yang aku lamar. Karena hari panggilan test kebetulan hari senin maka aku iyakan saja panggilan test itu. Aku datang untuk test dan lolos untuk test yang pertama dan mendapatkan panggilan test minggu depan. Aku senang sekali dan tak lupa aku memberi kabar pada dia. Namun bukan dukungan positif darinya, katanya dia gak suka jika aku bekerja diluar kota. Katanya yang dekat aja, soal besar gaji nanti kalau memang rejeki paslah ada jalan. Aku merasa semakin yakin dengan sifatnya kal itu. Meski tetap datang untuk test namun aku tidak se semangat hari pertama test. Hasilnya malah kembali aku lolos dalam test itu. Mendapat panggilan lagi untuk yang ketiga kalinya dan aku ijin kerja dari sekolah karena panggilan waktu itu hari rabu kalau gak salah, dan lagi – lagi malah lolos. Hingga hari berikutnya mendapatkan panggilan yang kebetulan pas hari aku kerja di sekolah lagi. Mengingat aku tidak didukung, dan juga takut kalau sering ijin nanti dikeluarkan aku pun minta waktu untuk datang pada hari senin. Mungkin karena itulah kali ini yang merupakan test terakhir mengalami kegagalan. Oke gak apa – apa, dalam pikiranku itu juga demi kelancaran hubungan kami.
Setelah itu aku fokus dengan mengajar. Ketika itu aku dan guru lain sedang asyik ngobrol karena waktu itu pas istirahat. Tanpa sengaja aku membaca koran dan disitu tertera ada sebuah lowongan kerja untuk mengajar di sebuah lembaga pendidikan. Iseng aja aku coba masukkan lamaran. Selang berapa hari kok tiba – tiba ada panggilan test yang kebetulan juga hari senin. Aku pun datang dan disana sudah ada sekitar ada 5 orang pelamar lain. Terlihat dari tampilan mereka yang seakan sudah profresional. Disitu saya memang merasa agak minder, namun apa boleh buat aku sudah sampai tempat test. Jalani aja kalau memang gak diterima juga ga apa. Giliranku masuk ruangan test, disitu saya dibanjiri beberapa pertanyaan dan aku jawab sebisaku saja. Selesai test aku pun pulang dan istirahat. Seminggu aku tunggu gak ada panggilan dan pikiranku mungkin memang gak diterima, ya sudahlah gak apa. Tapi tiba – tiba selang beberapa hari ada telfon yang mengatas namakan lembaga pendidikan yang aku lamar, katanya diminta hadir untuk mengikuti metting tahun ajaran baru. Senang sekali rasanya ternyata malah hanya aku yang terlihat kurang profesional yang diterima. Di hari yang diminta, aku hadir tepat waktu dan mendapatkan SK kerja ku dan mendaptkan jadwal mengajar. Memang rejekiku, jadwal mengjar di lembaga itu hari jumat dan aku pun dapat pekerjaan dobel. Ya SMK ya lembaga pendidikan tingkat D3. Alhmadulilah akan rejeki yang aku terima ini dan tak lupa juga aku selalu memberi kabar baik ini pada dia. Dia pun sepertinya merasa senang dengan rejeki yang aku dapatkan.
Oke, waktu berjalan dan hubungan ku sama dia berjalan normal – normal saja. Kami sering bertemu, kami sering jalan – jalan berdua meski masih backstreet. Disitu pun dia masih belum bisa memberikan status yang jelas untukku, hanya saja dia saat itu mampu memberikan janji yang meyakinkan ku untuk tetap bersamanya. Bagiku tidak masalah, mungkin semua ini karena dia masih ada yang lain yang belum sempat dia putus karena orang tua yang terlanjur menyetujui hubungan mereka.
Tiba waktunya, akhirnya dia putus hubungan dengan pacarnya. Disitu saya kok malah merasa bingung dan juga ada rasa salah yang menghampiri ku, haruskah aku merasa senang? Ataukah aku merasa bersalah karena aku hubungan mereka putus. Tapi apakah aku bersalah jika dulu aku juga sudah mengingatkan dia agar tetap bersama pacarnya dan menghentikan hubungan kami. Sudahlah jangan dipikir terlalu dalam, jika memang salah setidaknya aku pun dulu tidak menginginkan hubungan ini sampai aku berfikir dengan petunjuk yang Tuhan berikan lewat mimpi itu. Setelah itupun juga sudah beberapa kali aku menyuruh untuk menghentikan hubungan kami. Tapi dia malah semakin membuatku yakin akan keseriusanya padaku dan meyakinkan orang tuanya bakal menerimaku dan melihat dia yang spertinya sangat yakin membuatku juga yakin dan tetap berjalan bersamanya. Lagi – lagi aku belum bisa menerima status yang jelas darinya karena masih ada orang tua yang belum mengetahui hubunganku denganya, katanya. Oke lah gak masalah bagiku, mungkin juga ini separuh jalan ku menuju jenjang berikutnya yang lebih baik.
Suatu hari ada sedikit pertengkaran yang enurutku wajarlah dalam sebuah pasangan pasti ada ketidak cocokan pendapat dan hal itu membuat kami marahan dalam beberapa waktu, jika marahan kami tak pernah lama untuk memperbaikinya kembali. Ada kalanya aku yang mengalah, dan ada kalanya juga dia yang mengalah. Itu yang aku suka.
Namun ternyata kali ini berbeda dan jauh dari pikiran saya sebelumnya. Hampir seharian dia tidak ada kabar, tidak pernah menghubungi, dihubungipun hanya singkat – singkat saja. Aku mulai merasa ada apa ya, apakah sebenarnya aku yang bersalah. Malam hari itu aku telfon dia tapi tak pernah diangkat, akupun coba untuk terus menghubunginya. Dan akhirnya dia angkat juga telfon aku. Tapi yang apa yang aku dapatkan, dia menyalahkan aku dan dengan tiba – tiba dia berkata sudah ada orang lain dihatinya yang lebih baik untuknya dan katanya lebih mudah mengenalkan dia kepada keluarganya dan kemungkinan diterima orang tuanya lebih besar dibandingkan denganku. Dan kata terakhir dari dia jika disimpulkan bisa berarti jika nanti orang tuanya tidak setuju dengan orang itu, maka mungkin dia akan kembali lagi padaku.
Aku sangat tercengang dan tak habis pikir dengan keputusan yang dia ambil sesingkat itu tanpa sedikitpun berfikir dengan apa yang aku perjuangkan selam ini untuk dia. Saat itu tak ada kata – kata yang bisa terucap dari mulutku selain marah karena keputusanya dimana menurtku itu keputusan yang tidak masuk akal yang tidak dilandasi alasan pasti, jelas dan juga sama sekali tidak ada rasa menghargai ku sama sekali.
Karena aku terlanjur mencintai dan juga masih ada keinginan besar harapanku untuk tetap mempertahankannya untuk bersama denganku, esok harinya pun aku memberanikan diri menemui orang tuanya. Aku memberanikan diri karena disamping aku sangat mencintainya waktu itu, laki – laki lain yang ada saat ini pun pekerjaanya masih bisa dibilang sama lah dari segi penghasilan. Dengan perasaan yang campur aduk dan rasa takut aku beranikan diri berbicara dengan orang tuanya tentang apa yang sudah telah terjadi secara rinci. Ibunya pun lama – lama menangis dan bercerita bahwa anaknya pernah menjalin hubungan dengan aparat negara yang selain khidupanya yang sudah mapan dia juga sangat ramah serta baik imanya. Haduh, mendengar itu aku pun mulai merasa kecil sekali dan tak bernyali lagi. Sungguh sempurna sekali ternyata orang itu. Pembicaraan akhirnya usai dan aku pun pamit.
Aku pun pulang dengan rasa yang tidak karuan. Sampai dirumah aku pun menunggu jawaban dari dia setelah bicara dengan ibunya. Jawaban pertama mungkin agak terdengar melegakan. Ya, ibunya tidak setuju dengan orang itu dan masih berfikir tentang aku. Bolehlah saat itu aku merasa sedikit lega dan tenang. Aku pun bisa tidur pulas saat itu. Hari berikutnya pun aku mencoba menghilangkan rasa sakit ku atas pernyataan dia kepadaku itu supaya dapat menjalin hubungan yang lebih baik lagi seperti hari – hari sebelumnya.
Namun, apa yang terjadi ternyata tidak sejalan dengan apa yang aku pikirkan. Suatu sore aku sms dia, sampai malam larut pun dia tidak ada balasan sama sekali. Lagi – lgai aku kepikiran apakah hal yang kemarin terjadi sekarang terulang kembali. Aku coba untuk terus menghubunginya namun tak ada balasan sama sekali. Selang beberapa jam dia membalas sms ku dengna nada tinggi dan sangat aneh. ternyata dia diajak orang tuanya pergi menemui orang pintar dan orang pintar itu berkata bahwa aku telah memberi jampi – jampi alias pelet kepadanya sehingga dia cinta kepadaku. Woaaahhh..... sama sekali tak habis pikir aku mendengarnya. Dia bersi keras menuduhku bahwa aku melakukan cara yang tidak benar agar dia menyukaiku. Aku pun dengan tegas membantahnya karena memang aku sama sekali tidak pernah memberikan pelet kepadanya, bahkan dulu jika bukan dia yang memberi harapan akupun sudah lama pergi dari kehidupanya. Akan tetapi semua pembelaanku pun tak ada harganya dan sama sekali tidak mereka pertimbangkan meski aku sempat telfon daia dan orang tuanya untuk membuktikan kalau memang aku benar – benar begitu. Aku sempat mengajak mereka untuk menemui para kyai untuk menanyakan hal ini. Apakah benar atau tidak, karena memang aku sama sekali tidak pernah melakukan hal itu. Dian dan orangtuanya pun tidak mau dan sudah terlanjur percaya dengan orang pintar itu. Aku pun menyerah dan putus asa akan hal ini. Bagiku sudahlah memang sudah tidak ada jalan lagi untukku tetap bersamanya. Dalam hati hanya merasa sakit saja kenapa harus dengan fitnah seperti itu cara kami berpisah. Bagiku itu faktor dari semua ini hanyalah karena faktor ekonomi belaka.
Disaat rasaku yang super kacau itu, aku mulai menghilangkan sedikit demi sedikit rasa cinta yang ada padaku. Aku mulai dengan kehidupan baruku. Dari situ aku mulai berusaha keras untuk mendapatkan pekerjaan dengan pendapatan yang lebih baik. Jika memang bukan denganya, setidaknya aku bisa membuktikan bahwa aku pun bisa. Hanya itu saja prinsipku waktu itu. Terus dan terus aku mencari pekerjaan. Dan kemudian berhasilah aku mendapatkan pekerjaan yang lebih dekat dan dengan penghasilan yang lebih dibanding pekerjaanku sebelumnya. Aku merasa bersyukur dengan semua itu. Suatu ketika aku didekatkan dengan seorang wanita yang katanya dia sedang mencari seseorang yang memang benar – benar serius untuk ke jenjang pernikahan. Karena sudah kenal dengan orang itu, akupun berusaha mendekati namun dengan pelan – pelan. Setidaknya masih sedikit trauma dengan pengalaman kemarin. Selain itu juga kadang terpikir rasa malu jika nanti ditolak kembali karena faktor ekonomiku.
Dalam masa pendekatanku itu, ternyata dia muncul kembali dengan syarat asal aku mau bersumpah diatas Al qur’an atas tuduhan waktu itu dan dia mau kembali denganku. Sebenarnya aku seakan sudah tak mengharapkanya kembali karena rasa sakitku kemarin, namun jika aku menolak pasti dia berpikir aku melakukan hal seperti itu. Aku iyakan saja ajakanya dan aku minta tempat dimana aku harus melakukan hal itu. Dia tidak menjawab mau dimana. Ya sudah, yang penting aku berani menanggapi tantanganya.
Setelah itu dia pun mencoba untuk kembali dan meyakinkanku bahwa orang tuanya pasti bisa berubah pikiran tentang itu jika aku mau melakukan hal itu. Bodohnya aku waktu itu, aku percaya begitu saja denganya. Ya mungkin aku juga teringat mimpiku dulu yang aku pikir itu adalah petunjuk. Dalam hati berkata mungkin inilah jalanya. Ya, aku jalani lagi hubungan denganya dan tak menghiraukan orang yang tadi karena memang aku belum sempat terlalu dekat dan mengungkapkan perasaan kepadanya. Dia pun sepertinya belum berharap kepadaku.
Waktu terus dan terus berjalan seperti biasa. Disela sela waktu kadang aku bertanya kapan kita akan berusaha meyakinkan orang tuamu? Suatu saat nanti pasti ada waktu yang tepat untuk melakukan hal itu, jawabnya. Hingga beberapa kali aku bertanya jawabnya hanya itu – itu saja. Aku mulai berpikir apakah benar – benar mempunyai keinginan untuk usaha itu atau mendekati aku lagi hanya karena belum siap menjalani hidup sendiri. Aku coba bertahan dan bertahan diatas kebimbangan yang selalu menghantuiku.
Hingga waktu berjalan dan aku merasakan ada perbedaan dari dirinya yang seakan mulai cuek denganku. Dalam hati menyimpan pertanyaan yang sangat besar. Semakin lama aku merasa tingkahnya semakin biasa saja denganku, bahkan ketika dia bermain dengan temanya dia selalu seenaknya sendiri memberi kabar atau membalas pesanku. Lama aku biarkan tapi semakin hari bukan semakin baik, malah sifatnya seakan lebih penting main bersama teman – temanya dibanding bertemu denganku. Selalu ada saja alasan untuk tidak menemuiku dan selalu ada alasan untuk selalu keluar rumah dengna temanya.
Semakin lama akupun bosan dan kebetulan saat itu dia coba membohongiku. Katanya dia sudah membalas pesanku tapi selalu pending. Padahal jam dia mengirim jelas – jelas masih baru. Hal itu terus berulang – ulang hingga pada akhirnya aku bertanya. Apa hasilnya? Dia malah marah – marah dan seakan – akan membodohkanku. Saat itu juga aku bilang mulai saat itu kita berteman saja. Pertama dia mengiyakan begtu saja. Oke, bagiku berarti curigku selama ini benar adanya. Dia seakan tak ada rasa untuk menarik kata – kata ku untuk mengajaknya berteman.
Waktu berjalan baik dengan pertemanan meskipun diawali dengan pertengkaran hebat antara aku dan dia. Namun disela waktu aku ingin dia menemaniku untuk mencari baju. Dia pun mau dan kita semakin akrab lagi yang kemudian dia menyatakan bahwa masih menjadikan aku orang yang spesial dihatinya dengan bukti bahwa dia masih menyisakan uang jajanya untuk nanti membelikan kado untuk ulang tahunku nanti. Saat itu aku merasa senang mendengar pernyataanya, berarti dia masih mencintaiku.
Meski dengan pernyataan itu, tapi tetap saja dia tidak bisa berubah. Selalu dan selau teman yang dia utamakan. Padahal dari dulu pertama kali berhubungan aku sudah mengingatkan bahwa aku tidak melarang dia untuk berteman dengna siapapun, entah itu wanita atau pria. Hanya saja luangkan pula waktu untukku dan hargai perasaanku. Namun apa yang terjadi, ketika aku mengingatkan hal itu dia malah balik marah – marah denganku. Akhirnya aku yang meminta maaf tanpa kudengar kata maaf yang keluar darinya.
Lagi, aku diajak untuk menemani kerumah temanya dimana tidak ada yang aku kenal untuk ngobrol. Namun sesampai disana, pasangan lain saling berdekatan dan sela – sela waktu mengjak ngobrol. Beda dengan dia, dia malah duduk menjaga jarak denganku dan asyik bercanda denga teman – temanya tanpa menghiraukan aku sama sekali. Aku sempat marah dan diam waktu itu, akan tetapi bukanya dia mendekatiku dan meminta maaf, dia malah tambah memamerkan keasyikanya dengan temanya itu. Yang lebih parah lagi dia malah menjadikan aku sebagai bahan olokan dengan temanya. Aku memang sangat marah waktu itu dan dijalan kami bertengkar. Dia malah menyalahkanku karena aku hanya asyik main game, padahal aku main game karena tidak ada yang mengajak aku ngobrol. Akhirnya aku juga yang meminta maaf tanpa aku dengar kata maaf yang keluar dari ucapanya.
Pulang dari rumah temanya bukanya pulang karena sudah sore, dia masih main dengna temanya sampai malam. Padahal denganku dia selalu ada alasan jika main terlalu lama atau sudah malam. Sampai rumah dia bilang dimarahi orang tuangya karena terlalu lama main. Aku pun menanggapinya. Disela – sela menanggapi, pikirku aku menanggapi seperti ini apakah dia benar – benar mencintaiku ya? Jika mengingat hal – hal yang tadi. Secara perlahan pun aku mulai bertanya apakah dia yakin dengan dengan kebersamaan kita dan kapan usaha yang selalu kamu janjikan akan kita realisasikan? Bukan jawaban yang aku dapatkan, dia malah marah – marah dan menganggap itu bukan waktu yang tepat untuk membahas hal itu. Oke, aku minta maaf kembali.
Kali ini aku merasa terpukul kembali. Ketika aku buka media sosial, dalam beranda muncul foto dia bersama teman laki – laki yang belum pernah aku kenal selama ini. Itupun dengan gaya yang lumayan mesra. Bukan dia memang yang memasang foto itu, dia hanya di tandai. Namun bukanya menghapus tanda itu supaaya aku tidak melihatnya, dia malah seakan bangga dengan foto yang ada dengan membalas asyik beberapa koment yang muncul. Aku memang marah, orang mana yang tidak marah melihat orang yang dikasihi berfoto mesra berdua dengan orang lain yang tidak dia kenal. Namun apa hasilnya, dia kembali marah – marah dan yang tidak kusangka dia malah mengirim beberapa foto – foto berdua dia dengan teman- teman laki – laki. Memang ada beberapa foto yang laki – lakinya aku kenal dan aku tidak mempermasalahkan itu. Tentunya akupun semakin sakit melihat tingkahnya yang seperti itu. Yang tak kusangka, dengan lantang dia bilang bahwa semua foto ku denganya sudah dihapus semua. Oke, saat itu marah dan akupun yang akhirnya tetap minta maaf. Sekali lagi tak kudengar kata maaf darinya.
Aku mulai sangat curiga dan bosan dengan semua ini. Hingga akhirnya dia membuat status yang bagi pasangan manapun pasti akan merasa dangat tidak dihargai perasaanya. Kali ini sebenarnya aku tidak marah, aku coba untuk mengingatkan bahwa itu akan mempunyai efek yang tidak baik. Eh, dianya malah marah – marah lagi. Mulai saat itulah aku terus dan terus menekan agar aku mendapatkan kepastian atas hubungan kami. Apakah dia memang benar – benar yakin atau hanya untuk mempermaikanku. Dia pun belum menjawah, hingga keesokan harinya dia menjawab bahwa aku terlalu terburu – buru dan tidak mempunyai kesabaran untuk menunggu. Bagiku kurang sabar bagiamana cara ku menunggu jika pertanyaan itu sudah aku ungkapkan hampir 2 bulan yang lalu dan selama hampir 3 tahun aku mendapatkan status yang tidak jelas meski dulu dia selalu memberikan ku rasa yakin. Dia malah marah padaku dan mengakhiri hubungan kami dengan kata – kata belum siap untuk minta maaf atau memaafkanku. Dalam hati berfikir, siapa yang salah ya kok malah kamu yang bilang begitu. Aku terima saja lah keputusan itu, daripada aku tersiksa dengan hubungan yang kurang sehat ini.
Dua hari kemudian aku mencoba memastikan keputusanya, barangkali aja dia kemarin menjawab hanya dengan rasa emosi belaka. Tapi ternyata tidak itu keputusan yang benar – benar dia ambil. Memang itulah dia, meski aku sering mempertimbangkan jika dia inginkan kembali, namun jika dia udah mau pergi, tanpa ada pertimbangan sama sekali dan menutup begitu saja lembaran kisah yang ada.
Dan yang paling membuat aku merasa sangat sakit adalah kata – kata yang ternyata dia hanya menganggap hubungan selama ini hanyalah hubungan yang tidak jelas. Padahal sudah susah payah aku berjuang untuknya dan mempertahankanya karena kepastian dan janji yang selalu dia berikan. Dia hanya menganggap itu sebuah hubungan yang tidak jelas dan dia menyuruhku untuk menghapus semua foto ku denganya. Kedua pernyataanya yang ternyata dia dulu hingga kemarin mencintaiku hanya karena masih berfikir untuk senang – senang saja. Belum berfikir untuk masa depan.
Sungguh itu kedua pernyataan yang sangat sulit aku terima mengingat semua perjuanganku selama ini sama sekali tidak dia hargai. Namun dibalik itu, aku pun bersyukur dengan kedua pernyataan itu karena dengan itu aku dapat dengan mudah untuk melupakanya dengan menyimpan rasa sakit yang aku terima. Dan semoga aku bisa menutup semua rasa ini untuk selamanya.
Tapi kenapa sampai saat ini pun sebuah kata maaf tulus tak pernah kudengar darinya. Mungkin aku hanyalah sampah dimana aku hanya dibuang begitu saja setelah dia bosan.
Semoga aku diberikan kekuatan untuk menghadapi semua ini dan mendapat pangganti yang lebih baik. Begitu pula dengan dia, semoga dia mendapatkan jodoh yang sesuai dengan keinginanya, yang lebih baik dan sabar dari ku. Aamiin.
Semua ini berawal dari kisahku pada waktu masih kuliah, waktu itu saya mengambil mata kuliah KKN dan ternyata kelompok KKN saya ada si dia yang sekarang telah meninggalkan ku dengan beberapa peryataan menyakitkan bagiku, sebut saja namanya Ungu. Semula kami merasa biasa saja layaknya teman dan anggota kelompok yang lain, kami saling membahas dan mengerjakan tugas secara bekerjasama dan saling membantu. Karena terlalu sering kami bercanda dan melepas tawa bersama, tanpa sengaja mulai saat itu munculah dalam hati ku rasa suka kepadanya. Kami merasa semakin nyaman dengan kebersamaan dalam kelompok itu, meski saya sendiri belum mengutarakan apa yang sebenarnya ada dalam hati ku. Namun, apa yang ada tak seindah yang selalu aku bayangkan. Suatu hari Ungu ternyata berangkat KKN diantar oleh pacarnya yang bekerja sebagai abdi negara yang terlihat sangat gagah karena seragam ketatnya. Tak tahu kenapa hati ini terasa sangat sakit melihat kemesraan mereka di hadapan teman – teman KKN ku. Melihat pacarnya yang lebih keren dan juga mempunyai jabatan, bagiku sangatlah mustahil untuk mampu mendekatinya kembali. Perlahan aku mulai membiasakan rasa ini dan dengan gaya yang seakan biasa – biasa saja saya mulai mengkorek sedikit demi sedikit tentang pacanya itu. Katanya sudah menjalin hubungan sekitar 6 tahun semenjak dia lulus sekolah dan selama ini mereka LDR karena pacarnya bertugas diluar kota. Dan dia berkata sepertinya bosan akan hubungan yang dia jalani itu karena LDR itu. Mulai saat itu aku pun sedikit timbul rasa untuk menyatakan rasa yang ada dalam hati bahwa aku menyukainya. Namun disamping itu, hati ku pun berkata untuk tidak akan mengatakanya, selain malu jika ditolak aku juga berfikir tidak baik jika aku menjadi pihak ketiga yang merusak hubungan mereka.
Setelah itu, kami jalani hubungan layaknya sahabat. Kami saling main dan bercanda bareng di dalam kelompok KKN itu, hal itu membuat rasa semangat yang lebih dalam menjalani rentetan – rentetan tugas yang sudah diagendakan oleh ketua KKN kami. Hingga pada suatu hari dimana tugas KKN mulai usai dan penarikan pun tinggal beberapa hari lagi. Saat itu kami mempunyai rencana perpisahan kelompok dengan membuat acara main bareng ke pantai. Disitulah saya merasa sedih karena mungkin kebersamaanku denganya akan berakhir juga. Saat itu saya selalu gelisah dan tidak pernah tenang bagaimana rasanya esok setelah tak dapat bercanda lagi seperti hari – hari kemarin. Dan munculah dalam benak saya untuk mengungkapkan isi hati saya yang sebenarnya, saya pun tak berharap untuk diterima karena aku juga tak ingin dia berpisah dengan pacarnya gara – gara aku. Yang terpenting aku sudah lega jika dapat mengeluarkan apa yang ada dalam isi hati ku.
Malam hari terakhir di KKN kami berempat bercanda sambil mereka nonton film sampai pagi sementara yang lain sudah tertidur pulas. Pagi harinya kami pun packing barang – barang yang akan kami bawa pulang. Selesai packing, kami berangkat ke pantai bersama – bersama. Karena ada salah satu anggota KKN kami yang rumhnya dekat dengan lokasi pantai yang akan kami tuju, kami diminta untuk mampir dulu untuk makan siang. Disana kami dijamu layaknya tamu istimewa dengan banyak sekali hidangan. Setelah makan dan sholat, kami meneruskan perjalanan yang sudah tidak jauh lagi.
Sampailah kami di tempat tujuan. Cuaca yang cerah, angin yang besar, pantai yang terlihat bersih dan ombak yang tidak terlalu besar membuat kami bersemangat sekali untuk bermain air da pasir sampai seluruh pakaian basah dan kotor semua. Kami merasa bahagia sekali waktu itu, seakan hilang sejenak beban dan masalah yang selalu menghampiri dalam hidup kami. Setelah selesai kami pun pulang sendiri – sendiri karena memang arah perjalanan yang berbeda. Dalam benaku saat itu adalah saat yang paling membuat hati sangat tidak nyaman dan berdebar – debar, karena dalam pikiran ku selain itu hari terakhir aku dapat bersama dia, itu juga saat dimana aku akan mengungkapkan apa yang aku rasakan.
Malam pun tiba dan kami masih dalam separuh perjalanan. Kami berempat yang searah dalam perjalanan pulang berhenti istirahat sejenak sembari makan malam dan solat. Setelah perut terisi dan lelah sedikit hilang, kami pun meneruskan perjalanan pulang. Di tengah perjalanan itu aku memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya aku rasakan padanya, disitu aku pun menambahkan sedikit kata – kata bahwa ini hanya ungkapan rasa ku yang hanya aku ungkapkan supaya lega saja, tidak ada maksut lebih untuk diterima atau maksut lain untuk menjadi pihak ketiga dari hubungan dia dengan pacarnya. Dan jawaban tolakan juga yang aku dapatkan. Rasa sakit tetaplah ada jika mengalami penolakan, akan tetapi aku pun sadar siapa diri aku, apa pekerjaanku dan apa tujuan utama ku mengungkapkan persaan itu. Hal itu sangatlah menguatkan hati ku untuk tetap bisa tersenyum dan tetap bercanda dengannya dalam sisa perjalanan pulang yang sudah tak jauh lagi. Lagi pula aku berpikir itu hari terkahir aku bisa bercanda tawa denganya dan mungkin dengan berjalanya waktu, aku mampu melupakan rasaku ini.
Namun apa yang terjadi, sederetan laporan KKN yang harus dikerjakan dan dipresentasikan membuat aku dan dia sama saja masih selalu bertemu. Disitu aku pun mencoba menguatkan hati untuk tetap bisa bercanda dan tertawa denganya seperti hari – hari kemarin. Bahkan malah membuat kami semakin sering bertemu, makan, main dan bahkan jalan – jalan berdua. Hal itu membuat saya merasa sangat bahagia dan juga nyaman sekali meski dalam benaku selalu berpikir bahwa ini pun tidak akan pernah bertahan lama dan pasti aku akan mengalami rasa sakit karena kenyamanan sesaat ini karena saat bersama aku pun terkadang dia bercerita tentang pacarnya itu. Tapi apa boleh buat, hati terkadang tidak pernah sejalan dengan apa yang kita pikirkan. Dengan kebingungan yang sangat hebat ini sedikit demi sedikit aku belajar untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan mencoba meningkatkan ketaqwaan saya.
Mulai saat itu alhamdulillah saya pun mulai merasakan adanya perbedaan dengan hidupku menuju arah yang lebih baik. Hingga suatu saat kebingungan itu muncul kembali, sampai akhirnya saya merasa sangat berat untuk menjalani cobaan itu dan mulai bertanya kenapa aku harus dihadapkan dengan kisah yang seperti itu, makna seperti apa yang ingin Tuhan tunjukkan pada ku. Kemudian terpikir oleh ku untuk membuat satu keputusan. Waktu itu aku mencoba untuk rutin menjalakan sholat malam (sholat hajat) dengan doa yang saya bisa hanya untuk meminta pentunjuk-Nya kemana aku harus memilih jalan. Apakah aku harus menghentikan kebersamaan ini ataukah melanjutkanya.
Dalam doaku, aku meminta pada Tuhan “berikanlan kami jalan dan jalan yang benar jika memang dia adalah jodohku dan lupakanlah dia dari ingatanku jika memang dia bukanlah jodohku dan berikanlah masing – masing dari kami kebahagiaan dan kebaikan dalam menjalani hidup ini”. Seusai membaca doa akupun langsung kembali tidur dan sebelum tidur aku sempat berdoa kembali “Tuhan, hadirkan dia dalam mimpiku jika memang dia untukku”. Selama beberapa hari ternyata dalam mimpiku selalu ada dia. Hal ini yang membuat aku berfikir apakah benar dia adalah jodohku, namun juga membuatku semakin ada rasa yakin tuhan akan selalu memberikan jalan yang terbaik meski saat ini dia masih punya pacar.
Suatu saat dia menghampiri di di kampus pada sore hari dan kami berjalan – jalan entah kemana tanpa tujuan. Kami kembali ke kampus waktu itu sekitar habis isyak dan kami memutuskan untuk sholat isyak dulu sebelum pulang.
Dari situlah sebenarnya awal mula masalah datang meski saat itu aku berfikir ini adalah jalan. Selesai sholat dan saat duduk dengan sedikit ada obrolan, aku secara tak sengaja mengucapkan hal yang dapat diartikan aku menyukainya dan ternyata kali ini dia membalas rasa suka ku kepadanya. Aku merasa sangat bahagia sekali saat itu hingga tak mampu aku ungkapkan dengan kata – kata seperti apa kebahgiaan yang telah aku dapatkan malam itu. Setelah itu kami pun pulang dan sesampai dirumah kami melanjutkan dengan sms yang tidak ada hentinya jika salah satu dari kami belum ada yang tertidur. Namun, beberapa kali aku berpikir bahwa dia masih punya pacar dan ini adalah sebuah kesalahan jika aku terus melanjutkan hubungan ini. Suatu hari aku putuskan untuk memberanikan diri mengungkapkan bahwa jika dia memang masih mencintai pacarnya maka hentikan saja hubungan kita, meski nanti akan terasa sangatlah sakit sekali hati ini. Dan jawaban apa yang kuterima, dia mengutarakan bahwa sudah tidak mencintainya karena dia sendiri tidak suka dengan hubungan LDR. Hanya saja akan menunggu waktu yang tepat untuk menentukan siapa yang hendak ia pilih. Dari situ aku merasa mulai ada peluang untukku tetap bersamanya.
Hari – hari pun berlalu dan semua terasa sangat indah. Akan tetapi keindahan itu akan seketika berubah menjadi sakitku ketika mendengar pacarnya main kerumah dan mengajaknya untuk main. Sakit memang rasanya dan ada keinginan kuat dalam hati ini untuk tidak melanjutkan hubungan ku denganya. Namun apa daya, seolah – olah setiap aku bilang ingin berhenti dia malah mencoba menahan dan meyakinkan aku dengan segala janji – janjinya. Aku pun saat itu menerima keputusanya untuk tetap bersamaku.
Sering sekali kami bertemu meski dengan cara backstreet karena masih ada rasa takut ketahuan orang tuanya, aku sendiri saat itu masih berusaha keras untuk mendapatkan nilai layak dan mempercepat kuliah ku supaya setelah lulus aku bisa mendapatkan pekerjaan yang layak yang bisa diterima di keluarganya. Dan akhirnya dengan usaha ku yang penuh semangat dengan mengulang semua mata kuliah yang nilainya masih kurang hanya dalam waktu 2 semester. Bagiku itu sangat berat, karena dimana seharusnya semester itu hanya untuk fokus KKN dan skripsi namun aku juga harus menempuh banyak sekali mata kuliah yang seakan keseharian ku hanya full untuk memikirkan kuliah. Karena memang itu menjadi tekadku, aku lakukan semua itu dengna fine aja dan aku pun berhasil mendapatkan nilai yang bisa dibilang baik dan nilai itu jauh dari rasa pesimisku sebelumnya.
Oktober 2013 akhirnya aku dapat mengikuti wisuda. Disaat yang bahagia itu aku ingin sekali dia datang dalam acara wisuda ku, tapi jawabanya hanyalah “semoga besok aku bisa hadir dalam wisudamu”. Dengan kata semoga, kata itu memang sedikit membuatku kecewa. Dia pun akhirnya datang dan aku merasa senang dengan kedatanganya. Tidak seperti pasangan lain yang selalu membawakan bunga atau apapun dalam menghadiri wisuda. Dia datang hanya dengan tangan kosong saja. Saya pun sedikit tercengang waktu itu dan tetap aku tahan rasa kecewa ku. Okelah, semua aku anggap santai saja karena hari ini seharusnya hari yang menyenangkan bagiku. Di hari itu pulan sebenarnya aku juga ada perasaan bingung. Selalu berfikir setelah ini aku harus mencari kerja dimana, aku akan mendapatkan pekerjaan apa dan apakah aku mampu membuktikan bahwa aku bisa. Tapi sudahlah, itu memang jalan yang harus dilakukan setiap orang, itu bukanlah suatu cobaan melainkan sebuah tugas dalam menjalani kehidupan.
Perjuanganku untuk mencari pekerjaan pun dimulai. Hari – hari aku berusaha keras untuk memasukkan beberapa lamaran pekerjaan, entah itu via pos atau via internet. Setiap ada lowongan, tanpa banyak berfikir asalkan itu memenuhi syarat pasti aku langsung masukkan lamaran ke perusahaan itu. Puluhan lamaran masuk dan berhari – hari aku tunggu dengan penuh harap, namun tak ada panggilan juga. Tak menyerah, aku terus mencari lowongan dan masukkan lamaran. Sempat ada beberapa kali panggilan test, tapi hasilnya selalu mengecewakan. Entah itu karena aku yang bodoh dalam mengerjakan test atau karena banyak sainganku yang memang sudah berpengalaman dalam bidang pekerjaan itu aku tidak tahu. Waktu berjalan dan hasilnya masih sama saja, akupun mulai merasa jenuh dengan hasil usaha ku yang tak kunjung mendapatkan hasil dan juga dikarenakan kondisi keuanganku yang semakin menipis untuk mengirim puluhan lamaran dan transport ketika mendapatkan panggilan test diluar kota atau luar provinsi. Seakan itu menjadikan ku merasa sangat putus asa.
Suatu pagi disaat aku mulai putus asa. Saat itu aku sedang ngobrol – ngobrol dirumah tetangga tiba – tiba ada temanku kuliah yang menanyakan aku sudah bekerja apa belum. Langsung aku menjawab belum. Dan dia menanyakan maukah bekerja mengajar di sebuah SMK yang didirikan saudara temanku dan dia juga menjamin bahwa aku pasti diterima jika mau. Aku pun menjawab ya berikan aku waktu sehari untuk berfikir dan akan aku berikan jawaban nanti sore. Aku bingung dan berfikir karena itu bukan pekerjaan yang sesuai dengna bidangku, aku orang teknik tapi harus bekerja sebagai pengajar. Bahkan bagaimana cara berbicara didepan murid dan bagaimana cara mengajar pun aku sama sekali belum tahu. Namun dengan sedikit dorongan teman yang aku ajak ngobrol tadi aku putuskan untuk menerima pekerjaan itu. Pikirku ini kesempatanku mencari pengalaman dan siapa tahu ini jalan rejeki ku. Jika memang bukan jalan ku, setidaknya aku bisa mengumpulkan uang lagi untuk mencari pekerjaan yang lain. Belum sampai sore hari aku telfon temanku jika aku menerima pekerjaan yang dia tawarkan. Beberapa hari kemudian aku titipkan lamaran kerja ku lewar temanku itu dan mendapatkan panggilan untuk bisa datang pada hari pertama anak – anak masuk sekolah.
Disela waktu aku menunggu hari itu, ada tetangga ku yang menyarankan untuk melamar kerja di tempat saudaranya bekerja. Aku pun tanpa basa basi langsung membuat lamaran dan menitipkanya karena kebetulan saudaranya itu pas pulang. Bagiku entah mana yang dapat menerimaku, yang penting disini aku sudah berusaha semampuku. Sampai hari aku masuk ke sekolah dan panggilan dari perusahaan yang tadi pun belum ada panggilan. Fokus saja pada yang menerima ku, itulah yang ada dalam pikiranku.
Hari pertama aku bekerja, aku datang pagi – pagi sekali dan tak tahu harus bagaimana karena waktu itu kepala sekolah juga belum berangkat. Diberi salam murid untuk pertama kalinya bagiku sangat kaget dan masih merasa gagu dalam menjawab salam mereka. Akhinya kepala sekolah pun datang dan aku disuruh masuk kedalam ruanganya. Di dalam ruangan saya ditanya beberapa hal dan setelah itu aku langsung disuruh untuk bergabung dengan guru – guru lain disana. Rasanya bingung aku harus bagiamana karena saat itu murid hanya diberi tugas membersihkan kelas dan para guru isuruh menjaga masing – masing kelas. Alhamdulilah ada beberapa guru yang mau menemaniku mengobrol dan berbagi pengalaman mengajar. Selesai bersih – bersih, murid pada pulang dan aku main ke rumah guru tadi untuk lebih tau bagaimana cara mengajar dengan baik dan benar, juga bagaimana cara mengatasi grogi waktu didepan murid. Disitu saya mendapatkan beberapa ilmu yang dapat aku tuangkan untuk mengajar esok hari.
Sampai dirumah aku mulai merangkai kata – kata yang harus saya ucapkan besok. Setelah saya kira cukup aku pun tidur untuk melepas lelahku. Keesokan harinya aku aku berangkat pagi – pagi supaya tidak terlambat ke sekolah. Gak lucu juga jika hari pertama kok udah terlambat masuk kerja. Sampai disekolah aku mendapatkan jadwal dan itulah pertama kali saya harus masuk ke dalam kelas. Hati berdebar kencang, badan terasa panas dingin, tangan kaki terasa bergetar dan semua rangkaian kata hilang seketika dari pikiranku. Huft, imajinasi sendiri saja sambil kusuruh mereka menulis. Itu lah perjuanganku dihari pertama bekerja. Disekolah itu aku mendapatkan jam yang tidak banyak, hanya masuk kerja setiap selasa, rabu dan sabtu. Hari demi hari semua semakin terasa biasa saja meski kadang bingung mau bicara apa kalau murid hanya pada rame sendiri.
Sampai suatu hari aku mendapatkan telfon panggilan test ke perusahaan yang aku lamar. Karena hari panggilan test kebetulan hari senin maka aku iyakan saja panggilan test itu. Aku datang untuk test dan lolos untuk test yang pertama dan mendapatkan panggilan test minggu depan. Aku senang sekali dan tak lupa aku memberi kabar pada dia. Namun bukan dukungan positif darinya, katanya dia gak suka jika aku bekerja diluar kota. Katanya yang dekat aja, soal besar gaji nanti kalau memang rejeki paslah ada jalan. Aku merasa semakin yakin dengan sifatnya kal itu. Meski tetap datang untuk test namun aku tidak se semangat hari pertama test. Hasilnya malah kembali aku lolos dalam test itu. Mendapat panggilan lagi untuk yang ketiga kalinya dan aku ijin kerja dari sekolah karena panggilan waktu itu hari rabu kalau gak salah, dan lagi – lagi malah lolos. Hingga hari berikutnya mendapatkan panggilan yang kebetulan pas hari aku kerja di sekolah lagi. Mengingat aku tidak didukung, dan juga takut kalau sering ijin nanti dikeluarkan aku pun minta waktu untuk datang pada hari senin. Mungkin karena itulah kali ini yang merupakan test terakhir mengalami kegagalan. Oke gak apa – apa, dalam pikiranku itu juga demi kelancaran hubungan kami.
Setelah itu aku fokus dengan mengajar. Ketika itu aku dan guru lain sedang asyik ngobrol karena waktu itu pas istirahat. Tanpa sengaja aku membaca koran dan disitu tertera ada sebuah lowongan kerja untuk mengajar di sebuah lembaga pendidikan. Iseng aja aku coba masukkan lamaran. Selang berapa hari kok tiba – tiba ada panggilan test yang kebetulan juga hari senin. Aku pun datang dan disana sudah ada sekitar ada 5 orang pelamar lain. Terlihat dari tampilan mereka yang seakan sudah profresional. Disitu saya memang merasa agak minder, namun apa boleh buat aku sudah sampai tempat test. Jalani aja kalau memang gak diterima juga ga apa. Giliranku masuk ruangan test, disitu saya dibanjiri beberapa pertanyaan dan aku jawab sebisaku saja. Selesai test aku pun pulang dan istirahat. Seminggu aku tunggu gak ada panggilan dan pikiranku mungkin memang gak diterima, ya sudahlah gak apa. Tapi tiba – tiba selang beberapa hari ada telfon yang mengatas namakan lembaga pendidikan yang aku lamar, katanya diminta hadir untuk mengikuti metting tahun ajaran baru. Senang sekali rasanya ternyata malah hanya aku yang terlihat kurang profesional yang diterima. Di hari yang diminta, aku hadir tepat waktu dan mendapatkan SK kerja ku dan mendaptkan jadwal mengajar. Memang rejekiku, jadwal mengjar di lembaga itu hari jumat dan aku pun dapat pekerjaan dobel. Ya SMK ya lembaga pendidikan tingkat D3. Alhmadulilah akan rejeki yang aku terima ini dan tak lupa juga aku selalu memberi kabar baik ini pada dia. Dia pun sepertinya merasa senang dengan rejeki yang aku dapatkan.
Oke, waktu berjalan dan hubungan ku sama dia berjalan normal – normal saja. Kami sering bertemu, kami sering jalan – jalan berdua meski masih backstreet. Disitu pun dia masih belum bisa memberikan status yang jelas untukku, hanya saja dia saat itu mampu memberikan janji yang meyakinkan ku untuk tetap bersamanya. Bagiku tidak masalah, mungkin semua ini karena dia masih ada yang lain yang belum sempat dia putus karena orang tua yang terlanjur menyetujui hubungan mereka.
Tiba waktunya, akhirnya dia putus hubungan dengan pacarnya. Disitu saya kok malah merasa bingung dan juga ada rasa salah yang menghampiri ku, haruskah aku merasa senang? Ataukah aku merasa bersalah karena aku hubungan mereka putus. Tapi apakah aku bersalah jika dulu aku juga sudah mengingatkan dia agar tetap bersama pacarnya dan menghentikan hubungan kami. Sudahlah jangan dipikir terlalu dalam, jika memang salah setidaknya aku pun dulu tidak menginginkan hubungan ini sampai aku berfikir dengan petunjuk yang Tuhan berikan lewat mimpi itu. Setelah itupun juga sudah beberapa kali aku menyuruh untuk menghentikan hubungan kami. Tapi dia malah semakin membuatku yakin akan keseriusanya padaku dan meyakinkan orang tuanya bakal menerimaku dan melihat dia yang spertinya sangat yakin membuatku juga yakin dan tetap berjalan bersamanya. Lagi – lagi aku belum bisa menerima status yang jelas darinya karena masih ada orang tua yang belum mengetahui hubunganku denganya, katanya. Oke lah gak masalah bagiku, mungkin juga ini separuh jalan ku menuju jenjang berikutnya yang lebih baik.
Suatu hari ada sedikit pertengkaran yang enurutku wajarlah dalam sebuah pasangan pasti ada ketidak cocokan pendapat dan hal itu membuat kami marahan dalam beberapa waktu, jika marahan kami tak pernah lama untuk memperbaikinya kembali. Ada kalanya aku yang mengalah, dan ada kalanya juga dia yang mengalah. Itu yang aku suka.
Namun ternyata kali ini berbeda dan jauh dari pikiran saya sebelumnya. Hampir seharian dia tidak ada kabar, tidak pernah menghubungi, dihubungipun hanya singkat – singkat saja. Aku mulai merasa ada apa ya, apakah sebenarnya aku yang bersalah. Malam hari itu aku telfon dia tapi tak pernah diangkat, akupun coba untuk terus menghubunginya. Dan akhirnya dia angkat juga telfon aku. Tapi yang apa yang aku dapatkan, dia menyalahkan aku dan dengan tiba – tiba dia berkata sudah ada orang lain dihatinya yang lebih baik untuknya dan katanya lebih mudah mengenalkan dia kepada keluarganya dan kemungkinan diterima orang tuanya lebih besar dibandingkan denganku. Dan kata terakhir dari dia jika disimpulkan bisa berarti jika nanti orang tuanya tidak setuju dengan orang itu, maka mungkin dia akan kembali lagi padaku.
Aku sangat tercengang dan tak habis pikir dengan keputusan yang dia ambil sesingkat itu tanpa sedikitpun berfikir dengan apa yang aku perjuangkan selam ini untuk dia. Saat itu tak ada kata – kata yang bisa terucap dari mulutku selain marah karena keputusanya dimana menurtku itu keputusan yang tidak masuk akal yang tidak dilandasi alasan pasti, jelas dan juga sama sekali tidak ada rasa menghargai ku sama sekali.
Karena aku terlanjur mencintai dan juga masih ada keinginan besar harapanku untuk tetap mempertahankannya untuk bersama denganku, esok harinya pun aku memberanikan diri menemui orang tuanya. Aku memberanikan diri karena disamping aku sangat mencintainya waktu itu, laki – laki lain yang ada saat ini pun pekerjaanya masih bisa dibilang sama lah dari segi penghasilan. Dengan perasaan yang campur aduk dan rasa takut aku beranikan diri berbicara dengan orang tuanya tentang apa yang sudah telah terjadi secara rinci. Ibunya pun lama – lama menangis dan bercerita bahwa anaknya pernah menjalin hubungan dengan aparat negara yang selain khidupanya yang sudah mapan dia juga sangat ramah serta baik imanya. Haduh, mendengar itu aku pun mulai merasa kecil sekali dan tak bernyali lagi. Sungguh sempurna sekali ternyata orang itu. Pembicaraan akhirnya usai dan aku pun pamit.
Aku pun pulang dengan rasa yang tidak karuan. Sampai dirumah aku pun menunggu jawaban dari dia setelah bicara dengan ibunya. Jawaban pertama mungkin agak terdengar melegakan. Ya, ibunya tidak setuju dengan orang itu dan masih berfikir tentang aku. Bolehlah saat itu aku merasa sedikit lega dan tenang. Aku pun bisa tidur pulas saat itu. Hari berikutnya pun aku mencoba menghilangkan rasa sakit ku atas pernyataan dia kepadaku itu supaya dapat menjalin hubungan yang lebih baik lagi seperti hari – hari sebelumnya.
Namun, apa yang terjadi ternyata tidak sejalan dengan apa yang aku pikirkan. Suatu sore aku sms dia, sampai malam larut pun dia tidak ada balasan sama sekali. Lagi – lgai aku kepikiran apakah hal yang kemarin terjadi sekarang terulang kembali. Aku coba untuk terus menghubunginya namun tak ada balasan sama sekali. Selang beberapa jam dia membalas sms ku dengna nada tinggi dan sangat aneh. ternyata dia diajak orang tuanya pergi menemui orang pintar dan orang pintar itu berkata bahwa aku telah memberi jampi – jampi alias pelet kepadanya sehingga dia cinta kepadaku. Woaaahhh..... sama sekali tak habis pikir aku mendengarnya. Dia bersi keras menuduhku bahwa aku melakukan cara yang tidak benar agar dia menyukaiku. Aku pun dengan tegas membantahnya karena memang aku sama sekali tidak pernah memberikan pelet kepadanya, bahkan dulu jika bukan dia yang memberi harapan akupun sudah lama pergi dari kehidupanya. Akan tetapi semua pembelaanku pun tak ada harganya dan sama sekali tidak mereka pertimbangkan meski aku sempat telfon daia dan orang tuanya untuk membuktikan kalau memang aku benar – benar begitu. Aku sempat mengajak mereka untuk menemui para kyai untuk menanyakan hal ini. Apakah benar atau tidak, karena memang aku sama sekali tidak pernah melakukan hal itu. Dian dan orangtuanya pun tidak mau dan sudah terlanjur percaya dengan orang pintar itu. Aku pun menyerah dan putus asa akan hal ini. Bagiku sudahlah memang sudah tidak ada jalan lagi untukku tetap bersamanya. Dalam hati hanya merasa sakit saja kenapa harus dengan fitnah seperti itu cara kami berpisah. Bagiku itu faktor dari semua ini hanyalah karena faktor ekonomi belaka.
Disaat rasaku yang super kacau itu, aku mulai menghilangkan sedikit demi sedikit rasa cinta yang ada padaku. Aku mulai dengan kehidupan baruku. Dari situ aku mulai berusaha keras untuk mendapatkan pekerjaan dengan pendapatan yang lebih baik. Jika memang bukan denganya, setidaknya aku bisa membuktikan bahwa aku pun bisa. Hanya itu saja prinsipku waktu itu. Terus dan terus aku mencari pekerjaan. Dan kemudian berhasilah aku mendapatkan pekerjaan yang lebih dekat dan dengan penghasilan yang lebih dibanding pekerjaanku sebelumnya. Aku merasa bersyukur dengan semua itu. Suatu ketika aku didekatkan dengan seorang wanita yang katanya dia sedang mencari seseorang yang memang benar – benar serius untuk ke jenjang pernikahan. Karena sudah kenal dengan orang itu, akupun berusaha mendekati namun dengan pelan – pelan. Setidaknya masih sedikit trauma dengan pengalaman kemarin. Selain itu juga kadang terpikir rasa malu jika nanti ditolak kembali karena faktor ekonomiku.
Dalam masa pendekatanku itu, ternyata dia muncul kembali dengan syarat asal aku mau bersumpah diatas Al qur’an atas tuduhan waktu itu dan dia mau kembali denganku. Sebenarnya aku seakan sudah tak mengharapkanya kembali karena rasa sakitku kemarin, namun jika aku menolak pasti dia berpikir aku melakukan hal seperti itu. Aku iyakan saja ajakanya dan aku minta tempat dimana aku harus melakukan hal itu. Dia tidak menjawab mau dimana. Ya sudah, yang penting aku berani menanggapi tantanganya.
Setelah itu dia pun mencoba untuk kembali dan meyakinkanku bahwa orang tuanya pasti bisa berubah pikiran tentang itu jika aku mau melakukan hal itu. Bodohnya aku waktu itu, aku percaya begitu saja denganya. Ya mungkin aku juga teringat mimpiku dulu yang aku pikir itu adalah petunjuk. Dalam hati berkata mungkin inilah jalanya. Ya, aku jalani lagi hubungan denganya dan tak menghiraukan orang yang tadi karena memang aku belum sempat terlalu dekat dan mengungkapkan perasaan kepadanya. Dia pun sepertinya belum berharap kepadaku.
Waktu terus dan terus berjalan seperti biasa. Disela sela waktu kadang aku bertanya kapan kita akan berusaha meyakinkan orang tuamu? Suatu saat nanti pasti ada waktu yang tepat untuk melakukan hal itu, jawabnya. Hingga beberapa kali aku bertanya jawabnya hanya itu – itu saja. Aku mulai berpikir apakah benar – benar mempunyai keinginan untuk usaha itu atau mendekati aku lagi hanya karena belum siap menjalani hidup sendiri. Aku coba bertahan dan bertahan diatas kebimbangan yang selalu menghantuiku.
Hingga waktu berjalan dan aku merasakan ada perbedaan dari dirinya yang seakan mulai cuek denganku. Dalam hati menyimpan pertanyaan yang sangat besar. Semakin lama aku merasa tingkahnya semakin biasa saja denganku, bahkan ketika dia bermain dengan temanya dia selalu seenaknya sendiri memberi kabar atau membalas pesanku. Lama aku biarkan tapi semakin hari bukan semakin baik, malah sifatnya seakan lebih penting main bersama teman – temanya dibanding bertemu denganku. Selalu ada saja alasan untuk tidak menemuiku dan selalu ada alasan untuk selalu keluar rumah dengna temanya.
Semakin lama akupun bosan dan kebetulan saat itu dia coba membohongiku. Katanya dia sudah membalas pesanku tapi selalu pending. Padahal jam dia mengirim jelas – jelas masih baru. Hal itu terus berulang – ulang hingga pada akhirnya aku bertanya. Apa hasilnya? Dia malah marah – marah dan seakan – akan membodohkanku. Saat itu juga aku bilang mulai saat itu kita berteman saja. Pertama dia mengiyakan begtu saja. Oke, bagiku berarti curigku selama ini benar adanya. Dia seakan tak ada rasa untuk menarik kata – kata ku untuk mengajaknya berteman.
Waktu berjalan baik dengan pertemanan meskipun diawali dengan pertengkaran hebat antara aku dan dia. Namun disela waktu aku ingin dia menemaniku untuk mencari baju. Dia pun mau dan kita semakin akrab lagi yang kemudian dia menyatakan bahwa masih menjadikan aku orang yang spesial dihatinya dengan bukti bahwa dia masih menyisakan uang jajanya untuk nanti membelikan kado untuk ulang tahunku nanti. Saat itu aku merasa senang mendengar pernyataanya, berarti dia masih mencintaiku.
Meski dengan pernyataan itu, tapi tetap saja dia tidak bisa berubah. Selalu dan selau teman yang dia utamakan. Padahal dari dulu pertama kali berhubungan aku sudah mengingatkan bahwa aku tidak melarang dia untuk berteman dengna siapapun, entah itu wanita atau pria. Hanya saja luangkan pula waktu untukku dan hargai perasaanku. Namun apa yang terjadi, ketika aku mengingatkan hal itu dia malah balik marah – marah denganku. Akhirnya aku yang meminta maaf tanpa kudengar kata maaf yang keluar darinya.
Lagi, aku diajak untuk menemani kerumah temanya dimana tidak ada yang aku kenal untuk ngobrol. Namun sesampai disana, pasangan lain saling berdekatan dan sela – sela waktu mengjak ngobrol. Beda dengan dia, dia malah duduk menjaga jarak denganku dan asyik bercanda denga teman – temanya tanpa menghiraukan aku sama sekali. Aku sempat marah dan diam waktu itu, akan tetapi bukanya dia mendekatiku dan meminta maaf, dia malah tambah memamerkan keasyikanya dengan temanya itu. Yang lebih parah lagi dia malah menjadikan aku sebagai bahan olokan dengan temanya. Aku memang sangat marah waktu itu dan dijalan kami bertengkar. Dia malah menyalahkanku karena aku hanya asyik main game, padahal aku main game karena tidak ada yang mengajak aku ngobrol. Akhirnya aku juga yang meminta maaf tanpa aku dengar kata maaf yang keluar dari ucapanya.
Pulang dari rumah temanya bukanya pulang karena sudah sore, dia masih main dengna temanya sampai malam. Padahal denganku dia selalu ada alasan jika main terlalu lama atau sudah malam. Sampai rumah dia bilang dimarahi orang tuangya karena terlalu lama main. Aku pun menanggapinya. Disela – sela menanggapi, pikirku aku menanggapi seperti ini apakah dia benar – benar mencintaiku ya? Jika mengingat hal – hal yang tadi. Secara perlahan pun aku mulai bertanya apakah dia yakin dengan dengan kebersamaan kita dan kapan usaha yang selalu kamu janjikan akan kita realisasikan? Bukan jawaban yang aku dapatkan, dia malah marah – marah dan menganggap itu bukan waktu yang tepat untuk membahas hal itu. Oke, aku minta maaf kembali.
Kali ini aku merasa terpukul kembali. Ketika aku buka media sosial, dalam beranda muncul foto dia bersama teman laki – laki yang belum pernah aku kenal selama ini. Itupun dengan gaya yang lumayan mesra. Bukan dia memang yang memasang foto itu, dia hanya di tandai. Namun bukanya menghapus tanda itu supaaya aku tidak melihatnya, dia malah seakan bangga dengan foto yang ada dengan membalas asyik beberapa koment yang muncul. Aku memang marah, orang mana yang tidak marah melihat orang yang dikasihi berfoto mesra berdua dengan orang lain yang tidak dia kenal. Namun apa hasilnya, dia kembali marah – marah dan yang tidak kusangka dia malah mengirim beberapa foto – foto berdua dia dengan teman- teman laki – laki. Memang ada beberapa foto yang laki – lakinya aku kenal dan aku tidak mempermasalahkan itu. Tentunya akupun semakin sakit melihat tingkahnya yang seperti itu. Yang tak kusangka, dengan lantang dia bilang bahwa semua foto ku denganya sudah dihapus semua. Oke, saat itu marah dan akupun yang akhirnya tetap minta maaf. Sekali lagi tak kudengar kata maaf darinya.
Aku mulai sangat curiga dan bosan dengan semua ini. Hingga akhirnya dia membuat status yang bagi pasangan manapun pasti akan merasa dangat tidak dihargai perasaanya. Kali ini sebenarnya aku tidak marah, aku coba untuk mengingatkan bahwa itu akan mempunyai efek yang tidak baik. Eh, dianya malah marah – marah lagi. Mulai saat itulah aku terus dan terus menekan agar aku mendapatkan kepastian atas hubungan kami. Apakah dia memang benar – benar yakin atau hanya untuk mempermaikanku. Dia pun belum menjawah, hingga keesokan harinya dia menjawab bahwa aku terlalu terburu – buru dan tidak mempunyai kesabaran untuk menunggu. Bagiku kurang sabar bagiamana cara ku menunggu jika pertanyaan itu sudah aku ungkapkan hampir 2 bulan yang lalu dan selama hampir 3 tahun aku mendapatkan status yang tidak jelas meski dulu dia selalu memberikan ku rasa yakin. Dia malah marah padaku dan mengakhiri hubungan kami dengan kata – kata belum siap untuk minta maaf atau memaafkanku. Dalam hati berfikir, siapa yang salah ya kok malah kamu yang bilang begitu. Aku terima saja lah keputusan itu, daripada aku tersiksa dengan hubungan yang kurang sehat ini.
Dua hari kemudian aku mencoba memastikan keputusanya, barangkali aja dia kemarin menjawab hanya dengan rasa emosi belaka. Tapi ternyata tidak itu keputusan yang benar – benar dia ambil. Memang itulah dia, meski aku sering mempertimbangkan jika dia inginkan kembali, namun jika dia udah mau pergi, tanpa ada pertimbangan sama sekali dan menutup begitu saja lembaran kisah yang ada.
Dan yang paling membuat aku merasa sangat sakit adalah kata – kata yang ternyata dia hanya menganggap hubungan selama ini hanyalah hubungan yang tidak jelas. Padahal sudah susah payah aku berjuang untuknya dan mempertahankanya karena kepastian dan janji yang selalu dia berikan. Dia hanya menganggap itu sebuah hubungan yang tidak jelas dan dia menyuruhku untuk menghapus semua foto ku denganya. Kedua pernyataanya yang ternyata dia dulu hingga kemarin mencintaiku hanya karena masih berfikir untuk senang – senang saja. Belum berfikir untuk masa depan.
Sungguh itu kedua pernyataan yang sangat sulit aku terima mengingat semua perjuanganku selama ini sama sekali tidak dia hargai. Namun dibalik itu, aku pun bersyukur dengan kedua pernyataan itu karena dengan itu aku dapat dengan mudah untuk melupakanya dengan menyimpan rasa sakit yang aku terima. Dan semoga aku bisa menutup semua rasa ini untuk selamanya.
Tapi kenapa sampai saat ini pun sebuah kata maaf tulus tak pernah kudengar darinya. Mungkin aku hanyalah sampah dimana aku hanya dibuang begitu saja setelah dia bosan.
Semoga aku diberikan kekuatan untuk menghadapi semua ini dan mendapat pangganti yang lebih baik. Begitu pula dengan dia, semoga dia mendapatkan jodoh yang sesuai dengan keinginanya, yang lebih baik dan sabar dari ku. Aamiin.
0 komentar:
Posting Komentar